Mengerjakan buku anak itu nikmaaaat banget. Nikmat segalanya. Nikmat pusingnya. Nikmat ribetnya. Pokoknya serba nikmat deh. Tapi, yang jelas sangat nikmat kalau kita suka ngerjainnya. Pas, Mbak Ary ngajuin konsep buku 365, aku langsung tertarik buat ngerjainnya. Padahal, saat itu rencana awal buku itu dikerjakan ditahun 2008 dan terbit ntahun 2009. Tapi, akhirnya kita ditodong oleh keadaan (berbagai macam kebutuhan) harus terbit awal 2008. Tepatnya terbit di bulan Januari. Padahal, saat itu konsep awal baru kita rembukin di bulan Oktober (kalo nggak salah… kalo salah ralat ya Mbak Ary).
Nah, berarti kita cuma punya waktu sekitar 3 bulan. Tapi, aku tetep semangat walau dalam hati ada sedikit pertanyaan “mungkin nggak ya?” tapi tetep semangat. Apalagi emang sayang kalo buku ini harus terbit tahun 2009. Aniwei …. Dengan semangat 2008, akhirnya kita semua berusaha mewujudkan konsep itu menjadi sebuah buku yang kereeeen (udah pede bakalan keren, abis penulisnya kereeen banget) Kita semua pun mulai berjibaku dengan pembuatan buku itu. Mulai dari naskah yang dikirim Mbak Ary setiap hari via email. Proses edit, terus ke proses ilustrasi, layout, dan desain kover. Nah, selama proses-proses itu, banyak kejadian yang bikin jantung deg-degan, kepala puyeng, mata merah (waaah itu mah gejala kurang tidur).
Biasanya kejadian-kejadian itu ketika proses ilustrasi. Berhubung waktu yang sudah mepet, ilustrasi tidak memungkinkan dikerjain oleh satu orang (ilustartor dalem) makanya aku harus order ke illustrator outsource. Akhirnya, naskah dikerjain oleh tiga orang illustrator. Mungkin, karena waktu yang mepet banget, illustrator nggak sempet baca naskah secara detail. Aku pun nggak sempat bikin pengarahan buat illustrator. Akhirnya, banyak kasus di naskah itu tokoh ceritanya perempuan, eh yang digambar anak laki-laki. Hehe belum lagi proses pewarnaan, yang harusnya bajunya hitam diwarnai merah. Pokoknya rame banget. Hasilnya, pas proses proof dan QA banyak ilustrasi yang diperbaiki. Kalo memang nggak memungkinkan yang diperbaiki teksnya, jadi karena udah kadung diilustrasi tokoh anak laki-laki, berarti di naskah namanya diganti. Misalnya dari Kiran jadi Doni. Hehehehe … lumayan bolak-balik juga ke layouternya, soalnya keseringan kelewat gitu sama layouter atau kelewat juga sama akunya. Akhirnya, karena berbagai macam hal di atas, buku ini baru muncul di bulan Maret. Senangnya, akhirnya buku ini terbit juga. Tapi, di balik rasa senang beberapa kali menepuk jidat. “Loh kok komanya ada dua, lho kok A-nya masih belum dikecilkan hurufnya, looooh kok.”
Hehehe … banyak kata loh yang keluar deh.
Pokoknya, selamat deh buat Mbak Ary yang sudah bekerja keras menyelesaikan buku ini, buat teman-teman illustrator, layouter, dan desain kover sampai buku ini bisa hadir di tengah-tengah kita. Kurang lebihnya, saya mohon maaf, karena memang masih banyak kekurangan dari segi penyajiannya.